Pengalaman Aupair Indonesia ke Jerman : Meilan

Pengalaman Aupair Indonesia ke Jerman : Meilan

Pengalaman Aupair Indonesia ke Jerman : Meilan

Tulisan ini saya buat tanpa sepengetahuannya :-), tetapi saya yakin ia akan memahaminya karena prinsip kawan saya yang satu ini sama dengan saya senang berbagi dan memotivasi orang lain. 🙂

Langsung saja saya ingin menceritakan Pengalaman Aupair Jerman yang teman saya alami, meskipun sudah agak lampau sih, ia mengikuti Program Aupair Jerman pada 2005, tepat kuliah kami menginjak di semester ke-6 kalo tidak salah – Di kampus saya adalah hal yang lumrah dan biasa jika mahasiswanya cuti di akhir-akhir semester untuk mengikuti Program Aupair Jerman ini 🙂

Kawan saya adalah kawan seangkatan saya di Universitas Negeri Jakarta Angkatan 2002, sebenarnya banyak kawan saya yang akhrirnya memilih untuk menjadi Aupair Jerman, tetapi tidak saya sebutkan satu-persatu, pada kesempatan lainnya saya akan berusaha mengisahkan nya masing-masing.

Kenapa mereka memilih Aupair sebagai jalan menuju ke Jerman. Saya sudah jelaskan sedikit di Alasan Mengikuti Program Aupair, yakni kurang lebih karena Aupair adalah cara termudah dan tercepat bagi kita yang ingin merasakan kehidupan langsung di Jerman sekaligus dapat melihat Eropa langsung dengan mata kepala kita sendiri 🙂

Malah ngelantur nih :-). Yuk kita masuk lagi ke Pengalaman Mengikuti Program Aupair ke Jerman yang sempat diceritakan kepada saya, bahwa ada beberapa hal yang dapat saya sharingkan kepada Anda semua, diantaranya :

  1. Bahwa Aupair adalah kebanyakan identik dengan Baby Sitter adalah salah besar, karena Seorang Aupair itu memiliki jam kerja yang terbatas 30 Jam / Minggu, bisa 5 Jam x 6 hari atau sebaliknya 6 Jam x 5 hari, sedangkan seorang Baby Sitter mengurus anak mulai si anak bangun tidur sampai si anak tidur lagi
  2. Pekerjaan Aupair dalam rumah tangga itu hanya membantu pekerjaan yang ringan-ringan saja, seperti misalnya ia ceritakan bahwa ia tidak membantu orang tusa perempuan ketika memasak menyiapkan makanan, karena memang di awal kontrak ia mengatakan tidak bisa memasak dan tidak mau untuk memasak. Jd untuk pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya hanya membantu menyiapkan sarapan, mencuci piring, membersihkan kamar mandi yang ia pakai saja, karena di keluarga tersebut ada 2 kamar mandi, tetapi ia hanya membersihkan kamar mandi yang ia gunakan, menyapu 1 minggu sekali, mengelap kaca 1 minggu sekali dll yang sifatnya ringan
  3. Pada 3 bulan pertama biasanya kita tidak akan terlalu banyak berkomentar dengan keluarga asuh kita, karena ini adalah masa penyesuaian kita dengan keluarga asuh, sedangkan setelah lewat 3 bulan biasanya kita bisa bernegosiasi dengan keluarga asuh, seperti misalnya jatah cuti dll
  4. Ada beberapa kami di keluarga asuhnya mengunjungi Indonesia dan ia ditelpon untuk menemani mereka selama di Jakarta, ini tentunya keuntungan juga buat kita bisa berkeliling Indonesia gratis, bahkan ada yang teman saya juga sudah selesai Program Aupair tetapi ketika keluarganya berkunjung ke Singapore dan Australia ia ditelpon untuk menyusul kesana dan menemani anaknya

Demikian sedikit Pengalaman Aupair Indonesia ke Jerman : Meilan yang bisa saya bagikan. Tulisan ini saya buat untuk sekedar memotivasi Anda semua yang sedang mengikuti Kelas Aupair saya atau yang masih berencana untuk mengikuti Program Aupair ini di masa yang akan datang.

Anda berminat mengikuti program aupair selanjutnya Pendaftaran Program Aupair Periode Maret 2014. Segera daftarkan diri Anda jika Anda berminat bisa menghubungi kami di 08875324274

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *