Mutiara Firdaus : Jerman Tepat di Depan Mata!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hallo Guys.

Hari ini aku bakal ceritain salah satu peserta Aupair kita “Mutiara Firdaus” yang kiranya udah ngak asing lagi buat kalian yang sering mengikuti Update-an Yayasan Aupair Indonesia Jerman. Gadis 21 Tahun asal Kediri ini awalnya memiliki keinginan yang besar untuk pergi ke Negera-negara Eropa. Mutia ingin merasakan pengalaman tinggal di Negera dengan pusat mode, pendidikan atau pengetahuan. Disamping itu ia juga ingin belajar bagaimana cara mendidik anak-anak di Jerman sehingga kedepannya dapat menjadi bahan pembelajaran untuknya.
Sadar akan mimpi besarnya, Mutia sama sekali tidak berdiam diri dalam mengapai mimpinya tersebut. Ia mulai mencari-cari informasi seputar jalan menuju ke Jerman. Dan yahh ia menemukan Yayasan Aupair Indonesia Jerman. YAIJ adalah yayasan resmi untuk program Aupair, FSJ, dan Ausbildung ke Jerman.
Proses Selama Mengikuti Program Aupair di YAIJ.
Terdapat begitu banyak keseruan, kegugupan, suka, serta duka selama mengikuti program Aupair di YAIJ.
Proses pertama : Kursus Bahasa Jerman.Pada awal mengikuti kelas kursus bahasa Jerman, Mutia merasa sedikit takut karena ia tidak memiliki dasar sama sekali dibandingkan dengan beberapa peserta aupair/fsj dikelasnya saat itu. Saat di kelas ada yang langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Frau saat itu juga, sedangkan di telinga Mutia sendiri kata-kata itu masih terdengar asing.
Satu hal yang harus kamu ketahui tentang Mutiara Firdaus, ia adalah tipikal orang yang tidak gampang menyerah.Kekurangannya saat itu menjadikannya sebagai kekuatan.Setiap malam setelah selesai kelas, ia menambah durasi belajarnya di mess. Biasanya setelah menyelesaikan tugas/pr dari frau, Mutia mengulang kembali pelajaran yang baru diajarkan serta mempelajari modul yang akan di bahas besok. Kalau ada bagian pelajaran yang masih membingungkan, ia sering berdiskusi dengan teman-teman di mess. Menurutnya salah satu keuntungan tinggal bareng teman-teman di mess adalah ia bisa sharing tentang pelajaran-pelajaran yang di dapatkannya saat dikelas, sharing tentang mengapa mereka memilih menjadi aupair? mengapa harus Jerman? dan banyak hal lainnya. Hal ini tentunya menambah banyak pengetahuan untuknya.
Proses kedua : UjianDag, Dig, Duarr… Gugup, senang skaligus takut begitulah perasaan Mutia saat itu. Gugup karena ini pertama kalinya ia ujian langsung di level A2, senang karena skarang ia telah berada di babak penentuan setelah 3 bulan kursus bahasa Jerman, dan takut kalau-kalau ia gagal/tidak berhasil di ujian dan bagaimana nanti kedepannya?..
Well, kurang lebih hampir 2 minggu hasil ujian keluar. Mutia bersama teman-temannya langsung mengecek email mereka. Antusias serta kegugupan terlihat jelas dari wajah mereka masing-masing. Dan Yahh hasilpun keluar raut wajah Mutia seketika berubah. Setiap usahanya terbayarkan sudah. Belajar setiap malam hingga larut, mengulang pelajaran dan sharing-sharing tentang bahasa Jerman membawa Mutia dengan nilai ujian yang baik. Tapi tunggu dulu…
Sayangnya, ada salah satu temannya yang tidak lulus. Sebenarnya masalahnya bukan terletak pada pengetahuan bahasanya melainkan kegugupan yang berlebihan. Kegugupan ini membuatnya seketika blank saat ujian, baik itu ujian menulis, mendengarkan, membaca, maupun berbicara.
“Catatan penting nih buat teman-teman yang kiranya mau ujian di Goethe Institut. Persiapan pengetahuan bahasa memang sangat penting dalam menghadapi ujian tapi ada satu hal lagi yang ngak bisa kalian sepelekan yaitu kesiapan mental kalian. Pada dasarnya mental yang kurang siap atau pikiran yang sedang kacau dapat menghilangkan fokus kalian dalam mengikuti ujian. Makanya jangan lupa persiapkan diri kalian dengan baik, jangan terlalu banyak pikiran, ataupun gugup berlebihan”.
Proses ketiga : MagangSetelah ujian, para peserta aupair tidak terkecuali Mutia mengikuti magang di salah satu TK di Jakarta selatan. Tujuan dari magang ini sendiri yaitu untuk mempersiapkan para peserta aupair sebelum kiranya terbang dan menjadi aupair di Jerman. Dimagang ini mental para peserta di latih mulai dari cara menghadapi anak-anak, cara mengajarkan anak-anak, membantu makan, serta mengajak bermain. Nah disamping magang, formulir-formulir Mutia udah di kirim ke agen-agen di Jerman untuk pencarian GF atau keluarga asuh. Jangan dulu kira perjalanan Mutia di sini lancar-lancar aja yahhh… Mutia mengalami beberapa penolakan dari keluarga asuh, bahkan udah sampai ke tahap skype dan udah bercerita panjang lebar, namun tetap gagal.
Sampai akhirnya ia menemukan satu keluarga yang tertarik sama Mutia. Keluarga ini tinggal di Asslar dan memiliki 3 orang anak perempuan. Setelah melalui beberapa kali interview skype akhirnya keluarga ini memutuskan untuk memilih Mutia dengan langsung mengirimkan segala berkas-berkas yang dibutuhkan di kedubes untuk pengurusan visa. Intinya dalam proses pencarian GF kalian harus sabar, dan teliti. Kalian harus benar-benar mengetahui tentang keluarga tersebut serta seluk-beluk kegiatan sebagai aupair di Jerman.
Proses keempat : Pengurusan VisaSalah satu proses menegangkan yang harus teman-teman perhatikan adalah pengurusan visa. Di tahap ini, skalipun dokumen kalian lengkap, baik dokumen pribadi maupun dokumen dari keluarga asuh (gf), kalian bakal diperhadapkan dengan interview bareng orang kedutaan. Nah, pada interview inilah banyak yang ngak lolos.
Waktu saat itu Mutia memiliki termin yang sama dengan Cici salah satu peserta aupair periode oktober 2017. Selama beberapa hari Mutia dan Cici belajar simulasi interview visa bareng Herr Ayunk. Pertanyaan-pertanyaan maupun jawaban yang baik dan benar di ajari herr. Guna memperlancar percakapan mereka, latihan interview ini di ulangi selama beberapa hari hingga sampai herr merasa mereka benar-benar siap.
Well, saat itu tanggal 12 Desember 2017. Sejak malamnya Mutia sudah gunda gulana dan deg-degan untuk pengurusan visa, namun hal itu tidak dihiraukannya terlalu jauh. Jatwal termin waktu itu jam 1 siang, tapi Mutia sudah selesai bersiap-siap dan berangkat pada pukul 8 pagi. Nah hal ini membuat ia memiliki banyak waktu luang dan tidak terburu-buru saat di kedutaan. Setiap proses selama di kedutaan pun di lewatinya dengan baik dan tanpa halangan.
Herr aku udah selesai interview, ngak sampai 5 Menit, dan semua pertanyaan terjawab dengan baik!! Chat mutia sesaat setelah ia selesai mengurus visa”. dengan perasaan yang sangat senang ia menceritakan kepada herr prosesnya saat di kedutaan. Semua pertanyaan di tanyakan herr waktu simulasi interview serta jawaban-jawabannya keluar semua saat di  proses interview.Skarang kita tinggal menunggu hasil biasanya itu dari beberapa hari sampai paling maximal sebulan, “kata herr membalas pembicaraan Mutia”.
Setiap hari staf kantor selalu mengecek email peserta yang sudah mengurus visa kalau-kalau udah ada informasi dari pihak kedutaan. Dannnn YAAHHHH, tepat 2 hari setelah pengurusan visa ada email masuk dari kedutaan kepada Mutia dan Cici. YANG TERNYATA VISA MEREKA LOLOS DAN BISA DI AMBIL SESEGERA MUNGKIN. Pihak kantor pun langsung menginformasikan kepada Mutia dan Cici kalau mereka berhasil. Respon chat WA Mutia saat itu hanya menangis karna saking terharunya.
Pikirnya saat itu akhirnya cita-citaku yang sudah dari lama ini akan segera terwujud. Jerman udah di depan mata. Mutia tinggal menunggu keberangkatan pada Januari 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *