Kisah – Kisah Sulitnya Menembus Kampus Jerman (1)

Kisah – Kisah Sulitnya Menembus Kampus Jerman (1)

Kisah – Kisah Sulitnya Menembus Kampus Jerman

Tidak ada maksud apapun yang mau saya utarakan disini, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada para orang tua murid yang menggunakan jasa kursus bahasa Jerman saya. Saya utarakan tulisan ini hanya dengan tujuan untuk menjadikan pelajaran bagi para “pejuang” yang akan berusaha masuk ke kampus di Jerman / kuliah di Jerman. Harapan saya bagi para adik-adik dan orang tua yang akan menyekolahkan anaknya kuliah di Jerman bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang saya tulis berikut ini

Yaaa pada tulisan kali ini saya akan berbagi kisah beberapa para peserta saya yang berusaha mewujudkan MIMPInya kuliah di Jerman tetapi terkendala di tengah perjalanannya. APa saya kendala yang mereka hadapi ? Yuk tanpa panjang kata langsung saya simak kisahnya berikut ini :

Kisah 1 : Orang tua kaya, punya 3 pabrik tetapi anaknya tidak lulus ujian B1 selama 2x

aupair in deutschland germanySingkat cerita saya waktu itu dihubungi oleh orang tua murid yang menginginkan anaknya untuk bisa melanjutkan kuliah di Jerman dan meminta untuk belajar privat dengan saya di rumahnya. Nego sedikit masalah harga dan waktu sudah ditentukan , akhirnya kita sepakat untuk Privat Bahasa Jerman

Sedikit gambaran tentang peserta saya ini : laki-laki, lulusan SMA, daya tangkap cepat, boleh saya katakan manja, dan tipikal anak jaman sekarang agak malas mengerjakan PR yang saya berikan (saya biasanya memberikan PR di akhir kursus, dan esoknya di awal kursus saya akan tanyakan, dannnn sebagian besar tidak di kerjakannya)

Di hari yang telah ditentukan kita sepakat untuk running kursus mulai jam 8 pagi – 12 siang, saya pun datang di waktu yang ditentukan, kursuspun berjalan sebagai mana biasanya. DI akhir kursus ibunya mengajak saya untuk mengobrol dengan memanggil anaknya. Nahhhh disinilah mulai terlihat sebenarnya orang tuanya yang ngotot untuk menyekolahkan anaknya di Jerman, sedang kemauan anak saat itu saya lihat hanya 10 %

Berjalan 1 minggu kursus saya mulai merasakan BAHWA sepertinya berat untuk anak ini bisa melanjutkan kuliah di Jerman. Dasar yang saya ambil adalah dari pola belajar : Pagi saya datang ia belum  bangun, saya menunggu kurang lebih 10 menit, mulai kursus masih ngantuk sambil menguap, saya tanyakan PR ia bilang belum dikerjakan.

Sebagai seorang guru yang telah malang melintang di dunia pengkursusan bahasa jerman :), akhirnya tepat di minggu kedua saya memanggil ibunya untuk berdiskusi mengenai jalannya kursus dan pertimbangan saya BAHWA jika dengan pola belajar yang seperti ini akan sulit untuk anaknya bisa kuliah di Jerman. Saya berkata dengan berat hati BAHWA, akan SANGAT SULIT bisa Kuliah di Jerman jika dengan pola belajar seperti ini, karena untuk bisa kuliah di Jerman seseorang harus SANGAT SERIUS belajar (sebagai seorang guru saya akan selalu berkata kondisi sebenarnya walaupun itu akan SANGAT PAHIT terdengar)

Ibu nya pun mengamini apa yang saya katakan, karena memang ia melihat sendiri bagaimana kondisi belajar anaknya dan berkata, baik pak besok akan saya rundingkan dengan suami saya

aupair in deutschland germanySingkat cerita akhinya saya diajak makan siang dengan bapaknya sambil ngobrol-ngobrol. Iapun menanyakan tentang kondisi anaknya yang sedang kursus Bahasa Jerman, sayapun sekali lagi menceritakannya dengan tanpa ada yang saya tutup-tutupi. Tetapi jawaban dari bapaknya cukup membuat saya terkejut, karena ia berkata ” Di keluarga kami itu ada tradisi dibuang mas untuk anak laki-laki. Saya dulu selepas SMA dibuang ke Jakarta, sampai akhirnya saya bisa kuliah ekonomi di UNJ dan saya juga memulai usaha ini dari nol sampai sekarang saya punya 2 pabrik. Nah itu pula yang saya mau lakukan terhadap anak saya ini, saya mau kirim ia ke Jerman, dan saya yakin ia bisa SURVIVE di Jerman seperti saya, yang paling penting saya sudah didik agama dia dengan sangat kuat dan saya yakin dia tidak akan ikut pergaulan yang aneh-aneh di Jerman”

Mendengar hal tersebut agak shoock juga saya mendengarnya, tetapi mendengar alasan tersebut juga akhirnya saya memutuskan untuk terus melanjutkan kursus Bahasa Jerman sesuai dengan perjanjian awal dan saya hanya menjalankan peran sebagai guru saja, belajar sesuai dengan materi yang telah ditentukan

Singkat cerita tibalah masa Ujian di Goethe Institut, saya pun sebenarnya agak berat untuk menyuruhnya ikut ujian di Goethe, karena dari hasil tray out selama 3x nilai yang di dapat tidak cukup untuk LULUS, tetapi karena orang tuanya ingin melihat kemampuan anaknya maka akhirnya saya daftarkan juga ia ikut ujian di Goethe Institut

Hari pengumumanpun tiba dan benar saya ternyata ia tidak LULUS ujian di goethe , sayapun berdiskusi mengenai kelanjutannya, karena memang sesuai surat perjanjian saya akan memberikan free pengulangan selama 7x jika ternyata tidak lulus dalam ujian. Orang tua nya pun meminta waktu untuk berdiskusi, sayapun mengamininya

Kurang lebih 3 hari kemudian akhirnya saya mendapat kabar bahwa mereka (si orang tua) murid akan membiarkan kondisi anaknya seperti ini (dalam kondisi tidak lulus ujian), karena mereka telah mendapat kabar dari salah satu agen studi yang di Jerman bahwa mereka bisa membantu anaknya untuk sampai masuk ke salah satu kampus di Jerman (walaupun tidak lulus tetapi bisa melanjutkan kursus Bahasa Jerman di Jerman dengan visa Sprachschule (sekolah Bahasa). Mendengar hal demikian maka sayapun mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh mereka

Singkat cerita terakhir berhubungan kira-kira oktober 2013, saya pun tidak ada hubungan lagi dengan orang tua murid saya selama itu, karena saya fikir semua rencana mereka sudah berjalan mulus dan anaknya bisa masuk kampus di Jerman. Tetapi …. kira-kira bulan maret / april 2014, kira-kira 6 bulan sejak terakhir saya berhubungan, saya mendapat telpon dari teman ibu yang anaknya saya ajar dulu (karena memang saya kenal ibu teman ibu yang anaknya saya ajar, karena sebelumnya ia pernah mengutarakan hal yang sama mau menyekolahkan anaknya ke Jerman), menelpon saya, berbasa basi dan mengajak bertemu

Akhirnya saya bertemu dengan ibu tersebut beserta keluarganya. Apa yang menjadi kekagetan saya kemudian, ternyataa …. Anak yang saya ajar dulu, jangankan untuk masuk kampus di Jerman / kuliah, dia ujian B1 sebagai syarat pendaftarn masuk kampus saja sudah berusaha 2x ujian dan selalu gagal. “Jangan kan masuk kampus, ujian B1 aja belum lulus bagaimana bisa mendaftar”

kursus-bahasa-jerman-kaget saya mendengarnya, walaupun saya sudah prediksi sejak awal akan sangat sulit anaknya tersebut untuk bisa kuliah di Jerman jika masih dengan pola belajar yang seperti dia lakukan dengan saya. Lumayan lama kita ngobrol-ngobrol kurang lebih 2 jam, saya pun ikut memprihatinkan kondisi yang ada

Nah disini saya mau menekankan kepada teman-teman semua, BAHWA

Uang bukan Jaminan Anda bisa masuk kampus di Jerman / kuliah , tetapi kemampuan BAHASA JERMAN adalah HAL UTAMA yang WAJIB dimiliki oleh seseorang untuk bisa menembus kampus di Jerman / kuliah

Anda bisa bayangkan, selama 6-7 bulan menempuh sekolah bahasa (Sprachschule) di Jerman tetapi tidak bisa memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Misal kita kurskan dengan Rupiah kita juga akan melihat angka yang cukup fantastis, taruh saja misalkan biaya untuk anaknya / bulan sekitar 30 juta, karena memang  anaknya tergolong boros. Jika kita kalikan 30 juta x 7 bulan = 210juta. Ya benar orang tuanya sudah menghabiskan sekitar 200 juta untuk bisa mewujudkan mimpinya menyekolahkan anaknya di Jerman, tetapi apa daya ternyataaaa … Jangankan untuk kuliah, untuk lulus ujian B1 saja anaknya tidak bisa

Dari kejadian ini, hikmah / pelajaran yang bisa kita ambil adalah , ” Jangan bermimpi kuliah di Jerman walaupun orang tua Anda sekaya apapun, tetapi Anda tidak MAHIR dalam berbahasa Jerman “. Saya mau menekankan kepada Anda semua, BAHWA jika memang Anda bermimpi kuliah di jerman , maka Anda HARUS SERIUS dalam belajar Bahasa Jerman, karena ini adalah MODAL UTAMA Anda untuk bisa kuliah di Jerman

Saya rasa kisah untuk kali ini saya cukupkan sampai disini, sebenarnya masih banyak kisah yang mau saya ungkapkan kepada Anda semua mengenai betapa sulitnya masuk kampus di Jerman, sebagaimana tujuan awal saya, tetapi karena tulisan ini sudah terlalu panjang maka saya akan mencukupkan sampai disini dan akan saya sambung pada tulisan-tulisan saya berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *