KISAH AUPAIR : Ketegangan saat Ujian Bahasa Jerman di Goethe !

KISAH AUPAIR : Ketegangan saat Ujian Bahasa Jerman di Goethe !

Ketegangan saat Ujian Bahasa Jerman di Goethe !

Hampir sebagian orang yang mendengar kata “UJIAN” sudah bisa dipastikan akan mengalami perasaan tegang menghadapinya. Termasuk para peserta Aupair Periode Juli – September ini, dan inilah kisah mereka :

Semalam Saya berkumpul dan berbincang dengan beberapa peserta Aupair periode Juli – September 2016. Saat ini mereka sedang proses Pencarian Gast Familie. September akhir tepatnya tanggal 26, mereka berhasil melewati ujian A2 dengan perasaan campur aduk.

Sebelum mengikuti Ujian A2, mereka telah belajar selama 3 bulan dari level A1, A2 dan B1, tepatnya mulai tanggal 12 Juli sampai dengan 25 September 2016.

Cerita sedikit tentang mereka ujian ya, agar kalian bisa membayangkan dan menggambarkan bagaimana proses mereka ujian di Goethe Institut saat itu. Peserta yang ikut Program Aupair periode Juli – September hanya sebanyak 3 orang, karena memang kami jarang membuka kelas besar maksimal hanya 5 orang. Dan mereka bertiga adalah orang – orang yang berhasil lulus dari hasil seleksi kami.

Ujian di Goethe terdiri dari 4 modul, Hoeren (Mendengar), Screiben (menulis), Lesen (membaca), dan Sprechen (berbicara). Untuk ujian A2 ini hanya diadakan 3 bulan sekali di Goethe. Dan terdapat jadwal yang telah ditentukan langsung oleh pihak Goethe Institut, sehingga tidak dapat memilih. Ujian pertama yaitu Hoeren, Screiben, dan Lesen digabung satu waktu selama 1 jam, sementara ujian kedua Sprechen terpisah diruangan lain dan berlangsung selama 30 menit.

Kebetulan Saya sering ikut datang ke Goethe untuk melihat langsung bagaimana para peserta melewati Ujian mereka. Pukul 10.15, Alfi, Gian dan Indri baru keluar dari ruang ujian pertama. Alfi dan Gian mendapat ruangan yang sama untuk ujian pertama, sementara Indri mendapat ruangan terpisah sendiri.

Mereka mendatangi saya dengan wajah yang penuh keraguan, ketika saya bertanya soal ujian pertamanya mereka hanya menjawab :

” Duh gatau deh Mba Ay, Screibennya rada sulit dibanding try out”

” Hoerennya cuma kedengeran samar-samar, seketika kuping ku rasanya gabisa denger, dan lebih sulit”

” Aku sakit perut liat soal-soalnya mba Ay, huhu”

Cukup ikutan down dan prihatin dengar jawaban mereka, tetapi sekaligus ingin tertawa melihat ekspresi mereka yang benar-benar seperti orang yang frustasi. Saya mencoba memberikan mereka semangat dan menyuruh mereka untuk makan siang terlebih dahulu di kantin Goethe sebelum akhirnya mereka mengikuti Ujian kedua.

Sambil makan siang, kami sedikit membahas tentang soal-soal Hoeren, Lesen dan Screiben yang mereka kerjakan tadi.  Soal Hoeren yang mereka kerjakan sedikit lebih rumit dibanding waktu try out, karena sebenarnya seluruh jawabannya hampir mendekati, tetapi ada satu yang paling tepat, maka jika tidak teliti peserta bisa mengisi jawaban yang salah.

Sementara untuk Lesen dan Screiben mereka hanya perlu membaca dan memahami apa yang dimaksud, karena jika sampai salah mengerti maksudnya surat yang ditulis pada soal Screiben akan salah semua dan fatal.

Diskusi tentang ujian pertama terus berlanjut, Alfi, Indri dan Gian sempat berdebat tentang jawaban yang mereka jawab pada saat ujian tadi.

“Tadi Screiben Teil 2 maksudnya dateng ke rumah Frau Dena pukul 10 am kan?” tanya Gian

“Loh bukannya jam setengah 10 toh Mba?” kata Indri dengan logat Semarangnya

“Duuh udah-udah lupain dulu aja sekarang persiapin buat Ujian Sprechennya, aku yo wes deg-degan dapet giliran pertama” sahut Alfi dengan logat Semarangnya yang lebih kental dibanding Indri

Tepat pukul 11.00, seorang Prüfer dari ruang 3 memanggil nama Alfi dan 1 peserta laki-laki.

“Oh my God Ayuu, Gian, Indri doakan aku ya semoga ga gugup Sprechennya”

“Tenang mba, kamu pasti bisa kan udah belajar sampe B1, Semangaaat !!” Saya mencoba memberikan semangat untuk Alfi.

Gian dan Indri juga ikut menyemangati Alfi. Alfi masuk ke ruang 3 bersama lawan Sprechennya laki-laki. Pintu sudah ditutup oleh Prüfer, kami bertiga berdoa bersama agar Alfi diberi kemudahan.

Perlu kalian ketahui, Ujian Sprechen untuk level A2 berbeda dengan A1, jika A1 kalian akan bersama 4 lawan bicara memasuki ruangan dan mengambil kartu lalu masing-masing memberikan pertanyaan serta jawaban secara bergiliran. Sementara untuk level A2 ini hanya 2 orang dan ujiannya dalam bentuk percakapan untuk membuat sebuah janji dengan tema yang sudah ditentukan oleh Prüfer.

Oleh sebab itu PENTING sekali persiapan yang matang untuk menghadapi Ujian A2 ini. Jika peserta tidak lulus, maka peserta HARUS mengulang pada 3 bulan selanjutnya. Sebab ujian A2 sampai dengan B2 hanya ada pertiga bulan di Goethe Institut, tidak seperti ujian A1 yang diadakan tiap bulannya.

Dan kelebihan di lembaga kami, kami benar-benar mempersiapkan peserta kami untuk menghadapi ujian di Goethe. Kami sendiri mewajibkan peserta untuk mengikuti Try Out Simulasi seperti di Goethe, agar mereka benar-benar memahami betul bagaimana prosedur Ujian di Goethe Institut dan meminimalisir hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan.

Mereka hanya perlu mempersiapkan mental dan keyakinan terhadap kemampuan dan usaha belajar mereka selama ini.

Alfi sudah keluar dari ruang 3, dan kini giliran Gian dan Indri yang memasuki ruang ujian Sprechen. Mereka mendapat ruangan dan jadwal yang sama.

“Walah yuuu Alhamdulillah aku bisa semua Sprechennya, tapi lawan bicaraku tuh diem aja eh, jadinya aku yang harus aktif buat tanya, kasian dia padahal buat kuliah di Jerman loh yu dan dia bilang dia privat intensif padahal tapi nek menurut ku yo, dia tuh kayanya ga paham sama sekali sama rule ujian sprechennya”

“Syukur Alhamdulillah kalo gitu mba Alfi, wuaah kasian banget dong itu mas-mas. Memang ga menjamin mba Alfi meskipun sudah privat intensif kalo pengajarnya sendiri ga memberikan latihan untuk persiapan ujiannya”

“Iya yu untung aja aku, Gian sama Indri sering dikasih sama Frau Sita (Pengajar di Yayasan Aupair) latihan-latihan soal ujian, sering Hoeren, latihan sprechen terutama, sama tips dan tricknya menghadapi ujian di Goethe. Jadinya sebelum ujian kita punya gambaran yu gimana sih ujian di Goethe itu, dan setelah sampe di Goethe sih yaa tinggal mental kita aja yu”

Perbincangan seketika terhenti ketika pintu ruang 3 terbuka, Gian dan Indri muncul dari balik pintu.

Gian berjalan kearah Saya dan duduk tepat disamping Saya.

“aaaah mba Ay aku rada gugup banget tadi”

“eh mba Gian kamu tadi tuh jawabnya banyak yang salah loh” kata Indri sambil duduk disebelah Alfi.

“masa sih ndri? Ya Allah gimana dong”

“Yaudah tinggal berdoa ajalah mba kita bertiga, mudah-mudahan aja kita semua lulus ujian ya. Pengumumannya berapa lama sih mba Ay?”

“Tanggal 10 Oktober kalo ga salah pengumumannya, biasanya sih cuma 2 hari setelah ujian, tapi karena ini ujain A2 sampai B1 jadi jauh lebih lama pengumumannya”

“Walaaaah bisa mulih dulu nih aku ke Semarang yu” sahut Alfi.

“Haha iya iya bisa aja ko mba Alfi”

Alfi, Gian, Indri langsung menuju mess. Mereka bertiga tinggal di mess yang kami sediakan, karena mereka berasal dari luar Jabodetabek. Gian sebenarnya tinggal didaerah Cakung, tetapi karena lelah harus bolak-balik dari Cakung ke tempat les di Jagakarsa, makanya ia memilih untuk stay di mess bersama Alfi dan Indri. Sementara saya langsung menuju kantor kembali.

———————–

Setelah selesai mengikuti seluruh Ujian hari itu. Alfi dan Indri kembali pulang ke Semarang.

Sebelum mereka pulang, Saya membagikan 12 Aplikasi Agen Aupair yang wajib mereka isi. Aplikasi itu nantinya akan Saya kirim ke Agen Jerman yang bekerja sama dengan kami.

Alfi pulang hanya untuk melepas rindu kepada keluarganya di Semarang, sementara Indri pulang sekaligus untuk menjalani magang di Taman Kanak-kanak milik Ayahnya selama kurang lebih 1 bulan.

Beberapa hari pulang ke Semarang, Alfi kembali datang ke mess karena ia dan Gian juga harus menjalani Magang di Taman Kanak-kanak yang sudah kami rekomendasikan selama 1 bulan.

Magang di TK menjadi salah satu Kegiatan penting yang diterapkan pada Program Aupair di Lembaga kami, karena untuk melatih para Peserta Aupair mempelajari berbagai macam karakter anak-anak. Dan mereka bisa mendapatkan surat keterangan magang di TK yang sudah kami buat formatnya dalam Bahasa Jerman. Surat keterangan itu nantinya akan dikirimkan juga ke Agen Jerman.

Hari itu sepulang Alfi dan Gian magang, mereka datang ke kantor untuk memberikan Saya dokumentasi berupa foto-foto mereka magang dengan berbagai macam kegiatan di TK. Foto-foto yang mereka berikan sebelumnya sudah Saya informasikan beberapa persyaratannya, sebab tidak sembarangan dalam memilih foto dokumentasi yang nantinya juga akan dikirim ke Agen Jerman.

Annur salah satu Admin Yayasan Aupair juga datang beberapa kali ke TK untuk mengambil dokumentasi videonya.

Tak hanya memberikan foto-foto, Alfi dan Gian juga mengisi aplikasi Agen Jerman di kantor siang itu.

“Mba Ay aplikasi Gian kurang nomer paspornya ya, Gian masih ngurus paspornya mba Ay belum jadi dan mereka minta surat keterangan Gian ikut Program Aupair juga katanya “

“Oh mba Gian bikin paspor bilangnya mau ikut Aupair ya? Harusnya biar ga dipersulit ini itu bilang aja mau liburan jalan-jalan ke Singapore atau kemana gitu”

“Oalah aku gatau mba Ay kalo bisa bilang gitu aja, gimana dong mba Ay?”

“Yaa ga masalah ko mba Gian, aku bisa buatin surat keterangan juga ko”

“Oh oke deh makasih banyak ya mba Ay”

“Iya sama-sama mba Gian, isi aja dulu yang lainnya pokonya nanti setelah itu aku sama Herr Ayunk kroscek ada yang salah atau engga pengisian Aplikasinya dan jangan lupa buat Dear Familie surat untuk keluarga Jerman ya”

“Oh iya yu, aku udah buat tuh surat dear familie kaya yang kamu kirimin aku contoh buatnya punya anak-anak yang lain, tapi nek menurut ku sih masih ada yang salah” sahut Alfi sambil mengisi Aplikasi

“Tenang mba Alfi nanti di cek juga ko sama Herr Ayunk dibantu rapihin Dear Familienya biar bagus dan Keluarga Jerman tertarik terus bisa cepet dapet Gast Familie dan Berangkat deh ke Jerman !!”

“Wooooooh Danke loh yu, jadi makin Semangaaaaat aku yuuuu”

“Aku juga mba Alfiiii, ikutan semangaaaaat haha” samber Gian memukul lengan Alfi

“Yo tapi rausah mukul-mukul tanganku yo, sakit iki Giaaan, kowe kecil-kecil tenaga ne kuat banget yo (kamu kecil-kecil tenaganya kuat banget ya)” jawab Alfi mengelus-elus lengannya

Hahahaha kami semua yang berada di Kantor hanya tertawa.

—————————

Tiba di hari yang paling menegangkan bagi Alfi, Indri dan Gian. Ya tepat tanggal 10 Oktober hari ini, hari pengumuman kelulusan ujian A2 mereka. Indri yang masih berada di Semarang sejak pagi sudah menanyakan tentang hasil dirinya lulus atau tidak melalui chat Whatsapp.

Jika mereka tidak lulus maka ini memperlambat proses pencarian Gast Familie mereka, sebab mereka harus mengulang ujian A2 digoethe 3 bulan lagi.

Siang itu Alfi dan Gian sudah berada di kantor untuk menunggu hasil pengumuman mereka. Hasil ujiannya masuk ke email Herr Ayunk pemilik lembaga Yayasan Aupair. Namun hasil Ujian baru akan keluar pada pukul 15.00, sementara Alfi dan Gian sudah tegang menanti hasil ujiannya.

“udah sana makan siang dulu aja gih mba Alfi, mba Gian, udah mau jam 2 kalian berdua belom makan siang” kataku

“duuh ga bisa yu, gaenak makan, gaenak ngapa ngapain nek aku belom tau hasilne”

“iya mba Ay, apalagi aku nih yang kemaren banyak salah pas Sprechennya, aku takut banget ga lulus, dan harus ngulang bulan Maret 2017 ya Allah” tambah Gian

Begitulah kegelisahan yang mereka rasakan siang itu, hingga masuklah sebuah email dari Goethe Institut melalui email Herr Ayunk tentang Pengumuman kelulusan ujian.

“eh udah ada email dari Goethe nih mba Alfi, mba Gian”

Mereka berdua langsung mendekat kearah komputer saya dan duduk di sisi kanan kiri.

“Buka yu cepeeeeet, aku pengen tau hasilne”

“Aaah mba Ay aku takuuuut”

“Oke-oke, bentar ini aku buka, aku juga jadi deg-degan nih. Kalo engga aku dulu deh yang liat hasilnya, kalian nanti aku kasih tau aja ya”

“engga ah yu, aku juga penasaran pengen liat langsung”

Email dari Goethe sudah terbuka, kami bertiga semakin focus melihat ke arah monitor. Mereka berdua memasang wajah penuh panik. Nama pertama yang keluar yaitu Alfi dan hasilnya adalah LULUS.

“Wohooooo Alhamdulillah Ayuuuuu, aaaaaah aku lulusssss !!!” teriak Alfi bahagia memasang wajah penuh ekspresinya

“punyaku mana mba Ay ??”

“bentar-bentar ini harus scroll ke bawah dulu”

Nama kedua yang keluar yaitu Gian. Tertulis disitu bahwa Gian dinyatakan LULUS oleh Goethe.

“Aaaaaaaaah Mba Ayyyy, mba Alfiiiiii aku juga lulus !!!! Alhamdulillah ga harus ngulang, yeaaay asiiiik”

Gian dan Alfi langsung saling berpelukan memberi selamat satu sama lain. Kini yang terlihat diwajah mereka adalah Kebahagian yang rasanya tidak semua orang dapat miliki. Kebahagiaan itu tidak berhenti sampai disitu, ketika email selanjutnya kami buka dan nama selanjutnya adalah milik Indri.

Hasil ujian A2 Indri dinyatakan LULUS juga. Dan lengkaplah sudah kebahagian mereka semua sore itu. Email kelulusan hanya berisi tentang Lulus atau tidaknya, sementara untuk nilainya ada pada Sertifikat.

Sore itu juga mereka langsung datang ke Goethe Institut untuk mengambil Sertifikat A2 dan melegalisirnya sebanyak 2 lembar untuk keperluan pengurusan visa nantinya. Sesampainya mereka di Goethe Institut, mereka langsung menghubungi saya dan memberi tahu nilainya. Tak disangka kepanikan yang terjadi saat ujian terbayar sudah dengan hasil nilai mereka yang cukup memuaskan.

Gian berhasil mendapatkan nilai tertinggi yaitu 89

Screenshot_5

 

 

 

 

 

 

 

 

Indri berhasil mendapat nilai tertinggi kedua yaitu 78

Screenshot_7

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan terakhir Alfi yang mendapatkan nilai yaitu 77, beda 1 point dengan Indri.

Screenshot_6

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur saat membaca email dari Goethe Institut tentang kelulusan mereka, itu sudah menjadi suatu kebanggaan dan kebahagian tersendiri bagi saya dan seluruh Tim Yayasan Aupair. Ditambah lagi dengan mengetahui nilai mereka yang diatas rata-rata standart kami 75, dengan begini kami yakin mereka semua akan segera bisa mendapatkan gast familie, dan MIMPI mereka ke Jerman akan TERWUJUDKAN.

Kini mereka semua bisa memasuki proses Pencarian Gast Familie. Proses ini biasanya memakan waktu 2-3 bulan. Tetapi itu bukanlah waktu yang menjadi patokannya, karena pencarian keluarga tergantung kecocokan antara peserta Aupair dengan gast familienya. Ada beberapa peserta yang bisa mendapatkan gast familie dalam waktu seminggu atau sebulan, yang jelas segala proses dalam pencarian gast familie ini dibutuhkan rasa kenyamanan dan kecocokan satu sama lain, antara gast familie dan calon Aupairnya.

————————

Gak terasa ya cerita tentang peserta Aupair periode Juli – September 2016 ini cukup panjang juga, semoga kalian ga bosen dengan ceritanya ya. Cerita ini sengaja Saya buat sesuai dengan detail-detail percakapannya, agar kalian yang membaca memahami bagaimana perasaan yang dialami dari masing-masing peserta. Karena dari masing-masing peserta memiliki keraguan, keyakinan dan semangat yang berbeda-beda dalam mengikuti Program Aupair ini.

Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin Saya bagikan ceritanya, tetapi sementara ini rasanya cukup sampai disini dulu ya. Next di tulisan selanjutnya, Saya akan menceritakan tentang progres dari masing-masing peserta untuk Proses Pencarian Keluarganya. Jadi PASTIKAN Anda SELALU mengunjungi website kami ya 🙂

Silahkan SHARE cerita ini untuk teman Anda yang mungkin ingin mengikuti Program Aupair namun bimbang dalam menghadapi Ujian di Goethe Institut nantinya, karena Saya yakin cerita ini pasti bisa memberikan gambaran tentang pengalaman saat Ujian. Gak mau kan Anda / teman Anda TIDAK LULUS Ujian di Goethe ??

So, Share Now 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *