Ikha Muliawati (Aupair Jerman 2015)

Ikha Muliawati (Aupair Jerman 2015)

Hallo teman-teman  Pada artikel kali ini giliran kak Ikha Muliawati yang akan berbagi pengalamannya menjadi Aupair di negara Jerman. Check it out

11061942_10205386168525332_209069337759200520_n

Sejak kapan tinggal di Jerman, di kota apa?

–> Saya tinggal di Kota Hamburg sejak tanggal 2 Februari 2015. Saat itu sedang musim dingin (Winter) dan terdapat banyak salju di sana.

Hal baik apa yang kamu rasa kamu dapatkan dari mengikuti program Aupair?

–> Mendapatk Kesempatan dan Pengalaman-Pengalaman Baru yang Sangat Menarik. Saya banyak mempelajari budaya Jerman, mulai dari gaya hidup, makanan, pendidikan anak-anak di Jerman, dan masih banyak lagi yang lainnya.

–> Jalan-Jalan Gratis di Sekitar Kota Hamburg, karena saya mendapatkan Monatskarte atau kartu bulanan dari Gastfam saya. Kota Hamburg adalah kota yang sangat hijau. Masih banyak taman-taman dan hutan-hutan yang luas dengan pemandangan yang sangat indah dan asri. Saya sangat senang untuk bersantai di sana.

–> Belajar Hidup Mandiri, berani dan tetap survive atau bisa bertahan hidup di sini. Saya memberanikan diri untuk bisa pergi kemana-mana sendiri, cari alamat baru sendiri walau sempet kesasar juga, mengurus pembukaan rekening bank sendiri, perpanjangan visa sendiri walau agak masih terbata-bata bahasa Jermannya, membuat reservasi di Restoran via telpon sendiri. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki pertama kali di Jerman, saya belum memiliki kenalan dari Indonesia. Saya sadar walaupun saya berada di negeri asing, saya tetap membutuhkan teman dari Indonesia yang tinggal di Hamburg. Bagaimanapun juga menurut saya sangat penting memiliki teman yang bisa diajak berbagi cerita yang juga berdomisili di Hamburg. Syukur-syukur bisa diajak mengelilingi kota Hamburg. J Puji Tuhan, sekarang saya sudah memiliki cukup teman yang berasal dari Indonesia di sini.

–> Belajar beradaptasi. Saya harus bisa menyesuaikan diri dengan budaya mereka. Hampir dua bulan saya di sini. Secara personal, menurut saya orang Jerman itu ramah-ramah. Mereka terbiasa mengucapkan salam baik kepada orang yang sudah mereka kenal maupun orang asing, seperti Hallo ! Guten Morgen ! Guten Tag ! Gute Nacht ! Schoenen Tag ! Schoenen Abend noch ! Mach Gut ! Viel Erfolg ! Viel Spass !, Sebagai contoh saat berbelanja di Supermarket, kasir di sana akan menyapa pembeli dengan ramah atau saat berada di kendaraan umum, seperti kereta, orang Jerman terlihat membosankan, karena hanya duduk diam, mendenger musik (bagi anak muda), dan membaca buku biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tua. Tetapi, jika kita berani mengajak mereka mengobrol atau senyum saja, mereka akan respon dengan sangat ramah. Kemudian menurut saya orang Jerman memiliki komunikasi yang sangat baik. Sebagai contoh, seorang anak kecil akan menginformasikan jika ia ingin pergi ke toilet. Bukan untuk meminta bantuan, namun hanya sebagai informasi. Mungkin bagi kita, sebagai orang Indonesia, hal tersebut adalah hal yang sepele.

–> Belajar hidup hemat. Walau bagaimanapun saya sadar, pendapatan saya sebagai Au Pair tidak seberapa, oleh karena itu menabung adalah suatu kewajiban buat saya. Karena tujuan utama saya ke Jerman bukan untuk berjalan-jalan, melainkan melanjutkan studi di sana. Oleh karena itu sebisa mungkin saya menghemat pengeluaran saya di sini, sebagai contoh saya membawa bekal dan minum ketika saya pergi ke luar rumah dan sebisa mungkin tidak membeli makanan di luar rumah.

–> Membiasakan Diri Tepat Waktu. Seperti kita tahu, orang Jerman terkenal dengan ketepatan waktunya, sangat berkebalikan dengan orang Indonesia. Nah, ketika pertama kali berada di keluarga gastfam saya, hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa saya harus selalu tepat waktu menyelesaikan tugas-tugas saya. Puji Tuhan semasa sekolah dah kuliah saya sudah terbiasa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Saya sudah menciptakan kesan yang baik untuk orang Indonesia, bahwa orang Indonesia juga bisa tepat waktu. Bahkan saya selalu siap lebih awal.

–> Belajar Untuk Mengurus Diri Sendiri Sebelum Mengurus Orang Lain (Anak-Anak). Tinggal di negeri orang, apalagi sendirian. Wajib menjaga sehat !!! Jangan sampai kita sakit. Karena tugas kita sebagai Aupair adalah menjaga anak-anak, oleh karena itu kita butuh kesehatan yang lebih prima. Puji Tuhan, saya tak pernah sakit di Hamburg. Saya membiasakan diri saya untuk mengurus diri saya sendiri dulu, sebelum saya mengurus orang lain. Sebelum anak-anak sarapan, saya sudah sarapan duluan, agar saya lebih siap untuk menjalani aktivitas. Saya sering masak sendiri dan jarang sekali membeli makanan di luar. Saya sering berjalan-jalan kecil atau spazierengehen di hutan-hutan sekitar sini. Pokoknya tubuh harus cukup gizi dan fit.

–> Belajar Untuk Mengutarakan Pendapat. Orang Jerman terkenal dengan budaya “berbicara langsung/direkt”. Tidak seperti orang Indonesia yang lebih senang diam, segan atau memendam masalahnya sendiri, jika memiliki suatu masalah. Nah, di Jerman sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Saya diajarka untuk tidak malu untuk mengutarakan pendapat. Apalagi jika merasa ada hal mengganjal atau terasa berat sebelah, bicarakan saja secara langsung dengan sopan. Jika kita diam saja, masalah tidak akan selesai.

Hal buruk apa yang pernah kamu alami ketika mengikuti program Aupair?

–> Sejauh ini belum ada masalah yang benar-benar buruk menimpa saya. Hanya saja ketika rumah mereka dalam masa renovasi, banyak pekerja yang lalu-lalang, beberapa bagian rumah banyak yang berdebu, dan setiap hari saya harus membersihkan debu setelah mereka selesai bekerja. Capek sih, tapi saya memang harus ikutan bersih-bersih, wong saya tinggal disitu.

 Pengalaman/Momen terbaik/lucu yang berkesan selama hidup sebagai Aupair di Jerman?

– Banyak pengalaman yang menurut saya sangat berkesan, yaitu kebersamaan saya dengan anak-anak.

Anak asuh saya ada dua, berumur 6 tahun dan 10 tahun. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa. Ketika saya tiba di Jerman, mereka member saya kejutan dengan menghias kamar saya dengan nama saya Ikha. Mereka juga memberikan sebuah kado kecil yang mereka buat sendiri berisi gelang-gelang dan makanan manis atau Süβigkeiten dan gambar yang mereka buat sendiri. Karena saya tidak tahu mereka biasanya makan apa, merekalah yang mengajarkan saya memasak makanan kesukaan mereka.

– Kemudian, pada akhir pekan atau Wochenende pertama setelah saya datang, gastfam saya mengadakan acara makan malam atau Abendessen khusus untuk penyambutan saya di salah satu restoran terbaik di desa Blankenese. Di sana mereka memperkenalkan saya dengan dua orang Au Pair yang sebelumnya juga bekerja di Gast Familie saya. Menurut saya sambutan mereka sangat berkesan. Saya merasa dianggap sebagai anggota keluarga mereka.

– Pengalaman lucu lainnya adalah ketika Gastfam saya tiba-tiba memiliki 2 kucing dan akan pergi ke Austria untuk liburan musim dingin atau Ski Urlaub. Saat mereka pergi liburan saya ditinggal bersama 2 kucing, sementara saya sangat takut dengan binatang yang satu ini. Sebelum saya tiba di Jerman, mereka sebenarnya sudah mengetahui, kalau saya takut kucing. Anak-anak mengajari saya untuk tidak takut sama kucing. Mereka mengajarkan saya untuk menggendong dan merawat kucing, mulai dari memberikan makan sampai membersihkan kotorannya. Selama mereka liburan, tinggallah saya bersama kucing-kucing. Puji Tuhan, saya bisa mengurus kucing mereka dengan baik dan saya yang dulu takut kucing, sekarang berubah menyukai kucing. Terima kasih anak-anak J

– Satu lagi, ketika saya dan anak yang paling kecil masak Pfankuchen bersama-sama. Dia bilang secara tertulis, “Menurut saya kamu Au Pair adalah yang paling baik. Saya tidak pernah memiliki Au Pair sebaik kamu.” Tsssahhh, rasanya seperti mau terbang saat ia mengucapkan kata-kata manis seperti itu. Saya adalah Au Pair keempat yang mereka punya. Dan saya Au Pair pertama dari Asia.

Ceritakan dong tentang keluarga asuh kamu di Jerman.

Jujur saja ketika saya mendapatkan email dari keluarga mereka, saya sangat senang. Mereka mengirimkan profil keluarga mereka, tetapi saya hanya membaca nama mereka. Kemudian saya berlatih interview dalam bahasa Jerman, karena mereka akan melakukan interview melalui Skype dan syukurnya mereka mau menerima saya. Kemudian saya mencari nama mereka di mesin pencari google, kelihatannya mereka bukanlah keluarga yang biasa.

Saya tidak tahu ini, sampai saya tiba di Hamburg dan orang-orang bertanya, saya tinggal dimana. Saya baru menyadari, bahwa saya termasuk orang yang beruntung, berkat Tuhan. Mereka adalah keluarga yang cukup makmur, tinggal di daerah elite di kota Hamburg, yaitu di Blankenese. Gastvater saya adalah pengusaha, sedangkan Gastmuter saya adalah seorang CEO Finance di sebuah perusahaan penerbitan (Verlag). Mereka sering berpergian ke luar kota dan ke luar negeri, super sibuk. Tetapi hal yang sangat saya salutkan adalah mereka tetap memberikan kasihsayang dan perhatian mereka kepada anak-anaknya.

Mereka memiliki dua anak. Dua-duanya adalah perempuan, berumur 6 dan 10 tahun. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa kreatif, disiplin, aktif, punya banyak kegiatan ekstrakurikuler, dan tepat waktu. Keduanya juga sopan. Mereka hanya berani berteriak pada orang tua mereka, atau berkata tidak sopan pada orang tua mereka, jika mereka sedang marah. Akan tetapi, mereka tidak pernah marah, berteriak, apalagi berkata tidak sopan kepada saya.

Dengan basic bahasa jerman dari Indonesia dan melanjutkan sprachkurs disana, berapa lama kamu akhirnya bisa berbicara lancar dan baik dengan keluarga?

Walaupun banyak orang yang bilang, bahwa saya sudah cukup baik berbahasa Jerman, saya masih merasa belum fasih. Saya sudah mengikuti kursus atau Sprachkurs juga di VHS selama 1 bulan. Dan di kelas saya merasa, saya masih belum bisa berbicara bahasa Jerman dengan baik, karena kebanyakan teman di kelas sudah tinggal lebih dari tiga tahun di Jerman dan mereka sudah lancar berbicara bahasa Jerman. Oleh karena itu saya merasa masih harus banyak belajar. Jika berbicara dengan keluarga, hal yang paling penting adalah kita bisa mengerti apa yang mereka maksud, memberikan respon yang sesuai dan juga bisa menjawab, mengutarakan pendapat atau bertanya jika ada yang belum jelas. Kalau itu sih, lumayan mudah, karena yang dipakai adalah bahasa Jerman sehari-hari saja masih cukup mudah dimengerti.

Apa Rencana Kamu Setelah Aupair.

Tujuan utama saya ke Jerman sebenarnya adalah untuk kuliah. Tetapi, karena saya belum memiliki uang jaminan atau beasiswa, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan Aupair. Kegiatan Aupair sangat baik untuk memperlancar bahasa dan mengenal budaya Jerman, ya saya ambil saja kesempatan emas ini. Setelah Au Pair saya ingin sekali kuliah dan kembali ke Indonesia untuk menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi negara. Tssah

1551734_10205386134644485_363960660791321751_n

Pesan bagi yang ingin mengikuti Program ini.

– Pertama harus banyak berdoa. Karena sebenarnya mengikuti Program Au Pair itu hoki-hokian. Seseorang bisa mendapat keluarga yang baik, sangat baik, pelit, atau yang kurang bersahabat. Yang pasti, rajinlah berdoa minta kepada Tuhan berikan keluarga yang terbaik.

– Usahakan urus semua dokumen secara resmi, seperti kontrak tertulis dan jangan lupa siapkan mental, apapun yang kamu dapat syukuri. Jika kamu mendapatkan yang baik, tetap bersyukur dan jangan sombong, bantu yang lain juga yang mungkin membutuhkan informasi tentang Au Pair. Jika kamu mendapatkan gastfam yang tidak sesuai dengan keinginan atau kontrak, kamu harus tahu kemana kamu bisa melaporkan ketidaksesuaian dengan kontrak kerja yang seharusnya. Dan tetap bersyukur karena kamu sudah berada di Jerman, salah satu negeri terbaik di Eropa. Pengalaman buruk apapun itu bisa dijadikan pelajaran atau tips sendiri bagi orang-orang dibelakang yang ingin mengikuti jejak kamu. Jadi, baik dan buruk semuanya bermanfaat.

– Jika kamu disuruh bersih-bersih, kamu juga harus siap. Jangan merasa kamu dianggap sebagai ‘Pembantu Rumah Tangga’, karena anak-anak di Jerman juga terbiasa bersih-bersih. Mereka bukan anak manja.

– Cari informasi mengenai calon keluarga asuh kamu. Bagaimana latar belakang mereka, dimana mereka tinggal, apa saja yang mereka tawarkan, dsb. Jadi, ketika wawancara kamu tahu benar dengan siapa kamu berhadapan. Jika mereka adalah keluarga dengan latar belakang pendidikan yang baik, kamu harus ekstra persiapan untuk wawancara. persiapkan sebaik-baiknya, maka kamu akan mendapatkan yang baik.

– Saat wawancara, bertanyalah sejelas-jelasnya tentang tugas kamu, apa yang diharapkan dari Gastfamilienya, dan semua yang kamu dapatkan nanti saat kamu melakukan Au Pair. Jangan sampai ada hal yang kurang jelas. Misalnya, kamu mendapatkan Fahrkarte atau tidak, karena ada juga loh Au Pair yang tak mendapatkan Fahrkarte, sedangkan Fahrkarte itu penting untuk kamu bermobilisasi ke mana-mana dan juga mahal.

12 Comments

  1. Salam kenal mbak, saya berencana ikut aupair tahun depan, setelah baca cerita Gastfam mbak saya tertarik kalo mbak udah selesai jd aupair disana pengen melanjutkan jd aupair di gastfam mbak krn dari cerita mbak mereka itu keluarga yg baik,waktu mbak jd aupair apa keluarga asuh mbak bersedia membiayain tiket berangkat dan visa?

    1. Dear,

      Mbak kayanya salah alamat deh, jika mbak kirimkan pesan ini kesini, maka akan masuk ke inbox kami. Untuk tiket sendiri sudah menjadi tanggung jawab peserta Aupair mbak

      Terima kasih

  2. Admin, saya mau tanya, untuk masalah visa kan diharuskan mendeposit uang sebesar 100jt++, apakah program aupair ini juga harus mengikuti syarat deposit uang sebesar itu untuk visa?

  3. Untuk menjadi aupair jerman bagaimana, skarang saya aupair d austria tanpa langsung pulang ke indonesia. Mengingat bahasa jerman saya belum bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *