Apa Sih Persiapan Sebelum Ujian di Goethe-Institut?

Apa Sih Persiapan Sebelum Ujian di Goethe-Institut?

Hallo Leute!

Kata “ujian” identik dengan situasi yang menyeramkan atau mendebarkan bagi para pesertanya. Hal itu pula yang dirasakan oleh para peserta Program Aupair/FSJ Periode Januari 2018 yang akan menempuh ujian Bahasa Jerman di Goethe-Institut. Ternyata waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kelas Aupair/FSJ Periode Januari 2018 sudah hampir selesai. Para peserta yang berjumlah 9 orang tersebut memulai kelas mulai 8 Januari 2018. Mereka mempelajari Bahasa Jerman level A1-B1 secara intensif selama kurang lebih 3 bulan, dan akan mengikuti ujian A2 pada tanggal 22 Maret 2018. Kira-kira, Apa Sih Persiapan Sebelum Ujian di Goethe-Institut? Yuk simak hasil interview admin dengan beberapa peserta Aupair yaitu Siti Baequniyyah (Nia) dan Alfiyonita Alexander Pabubung (Vhyni), serta dengan guru yaitu Frau Telda Palisu.

Bagaimana persiapan kamu menjelang ujian di Goethe-Institut?

Nia : “Persiapannya kalau di kelas selama 2 minggu kami diberi latihan soal, try out, dan di mess setiap malam belajar, menghafal Wortschatz, melatih hören, karena menurut Nia itu yang paling susah, belum terbiasa mendengar. Selain itu sprechen juga susah karena dituntut untuk berbicara langsung di tempat dan tidak ada banyak waktu untuk berfikir.”

Vhyni : “Kalau aku mengulang soal-soal yang sudah diberikan kemarin dan banyak menghafal. Aku paling worry di sprechen jadi aku banyak menyiapkan kosakata. Selain itu juga di bagian schreiben jadi belajar menulis dari berbagai kasus baik itu surat formal/informal serta SMS.

Frau Telda : “Menjelang ujian di YAIJ ada 2 minggu untuk persiapan dan 5x try out. Kami melakukan simulasi ujian di goethe seperti apa, agar mereka tidak kaget ketika menghadapi ujian di sana sehingga dapat mengurangi kegugupan. Menurut aku persiapannya sudah mantap. Progress para peserta meningkat sekitar 80%.”

Bagaimana gambaran ujian di Goethe-Institut?

Vhyni : “Kurang lebih seperti try out. Bagian lesen menurut aku paling susah, karena biasanya materinya B1, gramatik dan kosakata mulai ilmiah. Aku khawatir terlalu lama membaca dan kehabisan waktu.

Frau Telda : “Ujian di Goethe-Institut secara umum ada 2 tahap, yaitu ujian tulis dan berbicara. Tahap 1 terdiri dari 3 bagian yaitu hören (mendengarkan), lesen (membaca), dan schreiben (menulis). Sedangkan tahap 2 adalah sprechen (berbicara) dengan patner yang dipilih secara acak sesuai ketentuan di Goethe-Institut.”

Bagaimana sistem belajar di YAIJ?

Vhyni : “Menurut aku sebagai peserta, sistem belajar di YAIJ bagus, kejar tayang, 1 hari 1 BAB. Aku pernah cerita ke teman aku yang juga belajar Bahasa Jerman kalau kita hebat bisa belajar dengan intensif seperti itu. Biasanya orang belajar B1 itu 1 tahun, bahkan ada yang 4 tahun. Awalnya aku kesulitan karena belum terbiasa, tapi semakin lama semakin mudah. Saat belajar A1 agak berat, A2 mulai terbiasa, B1 aku sudah bisa menyesuaikan.”

Frau Telda : “Sistem belajar di YAIJ itu sersan (serius tapi santai). Tidak membebani guru dan tidak memforsir murid. Sebagai guru aku diberi tanggung jawab agar para peserta bisa lulus ujian A2 sehingga guru me-manage dan mempersiapkan pembelajaran dengan baik. Para peserta yang aku ajar asik, semangat belajar, punya motivasi kuat untuk ke Jerman. Kadang selesai kelas mereka masih suka bertanya jika ada yg belum jelas dan tidak pernah lalai saat diberi tugas. Guru dan murid saling pengertian. Meskipun kadang juga kesal kalau udah diajarin tapi masih belum mengerti. Tapi aku bangga juga meskipun sudah pusing dengan gramatik mereka tetap berjuang.”

Bagaimana progress setelah beberapa kali try out?

Vhyni : “Hasil try out kemarin aku jatuh di awal, poinnya tidak sampai 60, aku agak jatuh di bagian lesen, tapi di try out selanjutnya hasil aku udah lumayan bagus.”

Apa harapan kamu setelah ujian?

Nia : “Semoga lulus, dimudahkan semuanya, bagi aku nilai nomor kesekian lah.”

Vhyni : “ Harapan aku semoga semua lulus, cepat dapat GF dan berangkat ke Jerman. Target nilai ujian aku minimal 70. Semoga bisa tercapai”

Frau Telda : “Hal terpenting semua peserta bisa lulus. Aku udah janjikan bagi yang nilai tertinggi akan aku beri hadiah berupa buku gramatik yang aku beli dari Jerman. Semoga bisa memotivasi ya.”

Apa kegiatan selanjutnya yang akan kamu lakukan setelah ujian?

Vhyni : “Setelah ujian aku dan peserta Aupair yang lain akan magang di kindergarten selama 1 bulan supaya ada pengalaman dengan anak kecil dan terbiasa ketika menjadi kakak asuh GF di Jerman nanti. Sembari magang, kita memulai proses pencarian GF, kenalan dll. Semoga prosesnya cepat, tapi aku ingin berangkat sekitar Bulan Agustus/September.”

Apakah ada ucapan terima kasih untuk guru?

Vhyni : “Terima kasih kepada Frau Telda yang telah mengajar kita ber-9 dengan sabar. Kita belajar dari 0, Frau Telda benar-benar guru yang sabar. Awalnya aku sempat hampir menyerah, tapi aku berpikir lagi, Frau Telda juga asalnya dari jauh, masa hanya karena kesulitan jadi mau mundur. Setelah itu, aku berusaha tetap fokus dengan tujuan awal aku. Terima kasih atas kerja kerasnya Frau Telda, sampai kemarin aku dan Nia lihat surat dari GF yang ditunjukkan Mba Annur sudah mulai mengerti. Progress aku dan teman-teman jadi lebih baik berkat bimbingan dari Frau Telda.”

Apa pesan Frau Telda sebagai guru untuk para peserta yang akan ujian?

Frau Telda : “Jangan begadang, manfaatkan hari tenang sebaik mungkin, belajar di siang hari, malamnya langsung istirahat total. Jangan memikirkan kelulusan, yakin saja kalian pasti bisa. Frau saja yakin kalau kalian pasti bisa, jadi kalian juga harus percaya dengan diri sendiri. Kalau misalnya kalian gagal, itu sebenarnya bukan kegagalan dari kalian, tapi itu kegagalan Frau. Jadi, tunjukan yang terbaik. Selamat menempuh ujian dan selamat bertemu di Jerman. Tschüss. Ich drücke euch die Daumen. Toi, Toi, Toi.”

(Cr: Tirani Jannatul Ma’wa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *